Merenung, mengingat, dan mencoba mengenang semua hal yang sudah dilakukan dengan seseorang selama hampir 5 tahun. Kalau ibarat usia biologis, lagi lucu-lucunya ya pasti? Tapi nggak juga kok! Banyak kerikil yang menyempil, banyak tembok yang menghadang, banyak ombak yang menerjang. Tapi tetap masih saja ada tawa, canda, gembira, hura-hura. Pastinya ada pembelajaran dari itu semua. Ada perubahan dari waktu ke waktu yang kita jalani bersama. Segala rasa, pernah singgah. Manis, pahit, asem, asin. Kayak permen Nano-Nano. Rame rasanya. Hehehehe…
Dulu yang terlihat hanyalah yang baik-baik. Kesempurnaan. Kesesuaian. Koheren. Apapun yang ada di diri kami, hanya yang indah-indah saja. Tak lama, kami pun hanya manusia biasa. Tak luput dari kekurangan. Mulai terasa ada ketidakcocokan, salah paham, juga keributan. Mulai dari ribut-ribut kecil, hingga ribut besar. Bahkan sempat memutuskan untuk berpisah karena tidak ingin saling melukai. Namun rasanya tak sanggup untuk berpisah darinya. Yang hanya sedetik saja jauh darinya berasa ingin mati saja.
Mendapat sanjungan dan pujian memang menyenangkan. Namun kadang membuat terlena. Mungkin juga bisa membentuk kesombongan. Entah apalah itu, kita pun patut dan dengan segala kerendahan hati memerlukan kritikan. Pedas pun. Mungkin itu bisa membangun. Pahit pun. Mungkin itulah yang dibutuhkan disaatnya.
Mungkin iya benar, aku egois. Atau mungkin dirinya yang egois. Tapi itulah manusia, diciptakan dengan keegoisan. Egois untuk memiliki sesuatu, egois untuk mendapatkan sesuatu, dan egois untuk menguasai sesuatu. Sah-sah saja jika sebagai manusia memiliki keegoisan. Tapi terus-menerus menuruti keegoisan, lelah dan tidak berguna. Membuat orang yang kita sayang semakin tertekan. Membuat orang yang kita banggakan menjadi tidak berkembang. Dan membuat orang yang kita cintai menganggap kita tidak peduli dan tidak bisa mengerti dirinya.
Inilah kehidupan. Kadang suka, kadang duka. Semuanya datang silih berganti. Jika dulu kita sempat menjadi baik, dan sekarang tidak, mengapa tidak untuk mencoba kebaikan itu datang lagi menjemput? Mengapa harus takut meraih kebaikan? Berusahalah! Pasti kebaikan itu akan menuntunmu kearah kebahagiaan. Kearah mimpi yang telah kita bicarakan, kita rajut, dan kita impikan menjadi kenyataan. Disinilah. Di titik inilah saya merasa level up! Yes! I got it! Semoga ini tidak lagi hanya dianggap janji, dan berhutanglah jika saya tidak menepati. Inilah niat saya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, menapaki kedewasaan yang mungkin sempat saya tinggalkan beberapa saat, dan memohon maaf kepada seseorang di sana, yang mugkin sempat tersakiti hatinya, terganggu pikirannya, juga tersita waktunya hanya untuk membimbing, mengarahkan, dan menunjukkan saya kearah hidup yang lebih indah, lebih sabar, dan nerimo. Bahwa inilah saya. Dan saya berbeda denganmu. Oleh karena itul, salinglah kita untuk dapat terus bersama, bergandengan tangan, berangkulan, berdekatan, berpelukan agar hidup terasa lebih indah. Masalah menjadi lebih ringan, dan apapun kita hadapi bersama. Melanjutkan komitmen dan mimpi-mimpi bersama.
Suka duka, senang sedih, naik turun, baik buruk, jatuh bangun, segalanya milik Tuhan. Betapapun senangnya, betapapun indahnya itulah nikmat Tuhan. Begitu pula, betapapun sedihnya, betapapun pahitnya itulah nikmat Tuhan. Karena hal-hal negatif ada, kita dapat memaknai cobaan, mengerti arti keikhlasan, dan mengerti arti kebahagiaan sebenarnya. Bahagia bukanlah disaat apa yang kita harapkan terwujud.
Bahagia bukanlah saat kita bisa menguasai perasaan seseorang. Bahagia bukanlah mewajibkan seseorang menjadi apa yang kita mau dan melakukan apa yang kita inginkan. Bahagia adalah dapat melihatnya bahagia. Bahagia adalah membuatnya nyaman dengan ketulusan yang kita miliki dan berikan. Bahagia adalah melihatnya berhasil meraih impian dan apa yang dicita-citakannya. Bahagia adalah menghargai apa yang sudah dilakukannya. Bahagia adalah belajar mencintai kekurangannya. Bahagia adalah dapat menjadi pelengkap dalam kekurangannya. Bahagia adalah membiarkannya melakukan apa yang ia inginkan. Bahagia adalah membiarkannya mengerti dengan sendirinya tentang apa yang kita inginkan, bukan dengan memaksanya melakukan sesuatu yang kita inginkan. Bahagia adalah buah dari kesabaran.
Tak banyak yang dapat kukatakan untuk melukiskan betapa besar cintanya. Ya! Kamu! Laki-laki yang hampir 5 tahun terakhir ini menemani hidupku, menerima amarahku, meredam emosinya karena emosiku, menyabarkan dirinya untuk menungguku yang dulu. Yang setiap gerak dan langkahnya ditujukan untukku. Setiap pikirannya selalu diselipkan tentangku. Setiap denyut nadinya mengingat diriku. Setiap hembus nafasnya mengharumkan hidupku. Juga setiap kata darinya adalah imamku. Laki-laki yang senantiasa berjuang tidak hanya untuknya, tapi juga untukku. Mempersembahkan karya-karya tidak hanya untuknya tetapi juga untukku. Membuatku terpacu dan terus semangat untuk dapat mengejarna. Yach! Itulah dirimu. Sadar atau tidak, engkaulah yang membuat hari-hariku lebih indah dan berharga. Surprise-surprise kecil. Satu kebohongan yang membuatku marah, namun jauh dilubuk hatiku mengharap hal itu kembali hadir, dan pipiku menjadi merah karenamu. Kartu-kartu pengiring kado-kadomu, dengan kata-kata yang selalu membuatku melayang, menganggap dunia ini semua milikku. Usahamu mencarikan barang-barang kesukaanku. Perjuanganmu mencari makanan yang aku pesan. Menghampiriku dikala aku kesepian. Menemaniku berbincang-bincang setiap saat aku mau. Walau sempat terucap kata yang tak kuharapkan keluar dari mulutmu, aku ikhlas menerimanya. Itulah cinta sesungguhnya. Tulus menerima apa adanya.
Tidak mudah untuk menguasai emosi. Apalagi emosi diri senidri. Amat sangat sulit. Dan dia tetap mau menemaniku dalam setiap gerak, langkah serta pikiranku. Membimbingku dengan sabar. Mengatakan bahwa yang ini salah dan yang ini benar. Mengajariku betapa indahnya kesabaran. Bahwa kesabaran berbuah ketenangan. Iya! Akan kucoba dari sekarang. Untuk lebih bersabar dalam segala hal. Bukan hanya untukku, bukan juga untukmu, tapi untuk kita. Semoga masih mau menunggu dan jangan bosan-bosan menemaniku.
Tidak! Aku tidak melarangmu untuk melakukan ini-itu. Aku hanya takut terabaikan. Aku hanya takut terlupakan. Aku hanya takut tersingkirkan bak debu yang bertebaran dijalanan. Yang tidak lagi punya pegangan tentang apa yang ia lakukan. Aku takut tidak memperoleh pelukan hangat itu lagi. Aku takut tidak mendapatkan kata-kata yang menyejukkan itu lagi. Aku takut tak ada lagi waktumu untuk sekedar berbagi cerita denganku, walau itu tak begitu penting untuk dibicarakan, tapi aku senang mendengar suaramu dari jauh, mendenger kamu tertawa terbahak-bahak, aku kangen ledekanmu itu. Aku kangen dan takut. Iya! Itulah keegoisan. Aku ingin selalu ditemani. Tanpa aku sadar mungkin kmu terbebani. Walaupun kmu berjanji tidak akan meninggalkan aku lagi. Tapi aku masih saja belum percaya. Masih sempat berfikir “ah itu kan sekarang, lain kata di waktu yang lain”.
Walaupun mungkin jauh sudah biasa, tapi aku tak mau semakin jauh dengannya. Tuhan, tolong berikan aku waktu dengannya. Yang lamaaa…aku mau mencium wangi tubuhnya, bisa mengelus-elus rambutnya, memijat pundak dan lehernya dikala ia kelelahan, memasakkan beberapa jenis hidangan enak untuk disantapnya dengan lahap, menikmati indahnya acara televisi didalam pelukannya, lalu tak lama terlelap dalam pelukannya, dan ia membisikkan i love you…., dan sedikit ciuman kecil dikening, pipi, lalu bibirku. Tuhan, bolehkah aku hidup dengannya? Aku ingin merayakan kebersamaan dengannya setiap malam. Dibawah temaran lilin-lilin kecil dan melihat setiap guratan-guratan di wajahnya saat ia tersenyum dan menatapku penuh kehangatan. Oh inikah indahnya kesabaran? Akankah kuraih buah dari kesabaran? Akan kutunggu panen dari kesabaran itu tiba di musim dalam hidupku.
Mungkin nanti jika kita berjodoh, belum tentu juga kita akan terus bersama. Tapi satu yang pasti, aku akan selalu menunggumu. Dengan sabar. Dengan Depe Jr. dan Hanin Jr. Tak apa, itu sudah menjadi kewajibanku. Satu pesanku, jangan pernah lupakan dan tinggalkan aku. Karena aku bukan apa-apa tanpamu.
Tuhan, akan kubiarkan dia mengepakkan sayapnya, melebarkan sayapnya demi menjadikannya orang yang lebih besar, menjadi pemimpin dalam dunianya, juga bagi diriku. Biarkan ia meraih impiannya. Walaupun aku harus tetap dan terus jauh dengannya, tolong berikan ingatan dalam hati dan pikirannya, bahwa ada aku nun jauh di sana…yang senantiasa menunggunya dengan setia dan penuh rasa rindu. Iya, rasa rinduku untuk menikmati hari-hari bersamanya kembali.
Hanin/ Ninceeee/ Mas Tommy/ Mas Imot/ Puw/ Pa/ Yang/ Sayang/ Honey/Hooonnn …maafkan aku yaaaccchhh..
I always Love U sayang….
Selamat menggapai cita-cita…
Sampai jumpa segera dikehidupan yang lebih mapan ya nantinya…
I always missing U…
Xoxo, mmmuuuaaccchhh…